Kalau kamu masih berpikir “revolusi seksual” adalah ide jenius yang lahir tahun 1960-an, kamu jelas belum pernah buka buku antropologi soal Amerika Utara pra-kolonial. Ketika Eropa sibuk terjebak berabad-abad represi, khotbah moral dogmatis, dan jubah yang dikancingkan sampai dagu, suku-suku Asli Amerika menjalani seksualitas dengan kewajaran alami yang bakal bikin aktivis moral zaman sekarang pingsan.
Bagi mereka, seks bukan pusat sistem rumit rasa bersalah dan penebusan dosa. Itu energi. Dan seperti energi lainnya, itu memang ditakdirkan untuk mengalir.
1. Lebih dari Dua Gender? Selamat Datang di Dunia Nyata
Satu hal yang bikin misionaris Kristen benar-benar kelimpungan, dan masih membuat gelisah mereka yang terpaku pada label biner, adalah konsep Two-Spirit. Di banyak budaya asli, dunia tidak dibagi rapi cuma jadi “laki-laki” atau “perempuan.” Ada kategori ketiga, individu yang mewujudkan kedua jiwa itu.
Orang-orang ini bukan “berbeda” dalam arti merendahkan; mereka dipandang punya perspektif istimewa, mampu melihat dunia dari kedua sisi mata uang. Dalam urusan keintiman, sama seperti kehidupan sosial, fluiditas ini bukan keanehan: itu aset. Ketika kita capek-capek mendefinisikan siapa itu apa, mereka sudah memahami berabad-abad lalu bahwa identitas cuma pakaian yang kamu jahit sesuai badanmu sendiri.
2. Seks sebagai “Obat”
Lupakan perdebatan panjang dan membosankan soal apa yang “benar” atau “salah.” Bagi banyak suku, aktivitas seksual terikat dengan vitalitas, bumi, dan siklus musim. Ada ritual yang merayakan kenikmatan bukan sebagai dosa yang perlu diampuni, tapi sebagai cara sah untuk terhubung dengan yang ilahi.
Kalau kamu punya hasrat, kamu penuhi. Tanpa perlu repot mampir ke pengakuan dosa dulu atau bangun Senin pagi merasa “kotor.” Ini murni pragmatis: kalau alam sudah menganugerahi kita hasrat, kenapa juga kita harus berpura-pura itu masalah?
3. Misionaris dan Trauma Ketelanjangan
Benturan sesungguhnya bukan antara dua budaya, tapi antara budaya yang tidak punya tabu dan budaya yang hidup sepenuhnya dari tabu. Penjajah Eropa, datang dengan topi lebar dan ketakutan patologis terhadap tubuh telanjang, bertekad “membudayakan” penduduk asli dengan mengajari mereka bahwa hasrat adalah musuh yang harus ditaklukkan. Hasilnya? Bencana budaya. Mereka mengambil bangsa yang hidup selaras dengan dorongan mereka sendiri dan mencoba memaksa mereka masuk jaket pengekang moralitas Victoria sebelum zamannya.
Catatan Etimologi (dari Say Sexology)
Mari bahas kata “Tabu”. Ironisnya, ini bukan asalnya dari Barat. Berasal dari kata Polinesia tapu, artinya “sakral” atau “terlarang.” Sungguh menarik melihat bagaimana kita berhasil mengubah “sakral” jadi “dosa.” Ketika bagi suku Asli Amerika beberapa tindakan itu “sakral”, disimpan untuk konteks tertentu, bukan karena hina, tapi karena kuat, kita mengambil konsep itu dan mengubahnya jadi pentungan untuk memukuli siapa pun yang berani bersenang-senang lebih dari yang diizinkan hukum.
Intinya Begini
Kenapa menulis soal ini? Karena saya merasa lumayan lucu bagaimana kita bersusah payah mencari kebebasan seksual “baru”, padahal sebenarnya kita cuma tersandung pada kebenaran yang sudah dikuasai penduduk asli, sementara leluhur kita masih sibuk menghitung biji tasbih.
Lain kali kamu dengar seseorang mengoceh soal “kemerosotan moral”, tawarkan segelas teh. Kemerosotan sesungguhnya bukan pada tubuh yang merasakan kenikmatan; tapi pada kepala orang-orang yang mengubah hidup jadi daftar larangan yang membosankan.
Menurutmu bagaimana? Apa kita benar-benar sudah maju, atau justru kehilangan kearifan yang sudah tertanam dalam DNA mereka? Kasih tahu di kolom komentar, dan saya janji tidak akan meneruskan balasanmu ke komite moral!

